Beban Biaya Tinggi, BPJS Kesehatan Cari Solusi

By Syukur 21 Jun 2019, 17:32:29 WIB Kesehatan
Beban Biaya Tinggi, BPJS Kesehatan Cari Solusi

Keterangan Gambar : BPJS Kesehatan Kota Makassar


MAKASSARNEWS.COM, Makassar - Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mengumumkan hasil audit terhadap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada Mei 2019 lalu, atas temuan defisit anggaran sebesar Rp9,1 triliun.

Penyebab defisit tersebut, salah satunya ditengarai besarnya biaya pelayanan kesehatan yang harus ditanggung akibat tingginya jumlah penduduk yang menderita penyakit tidak menular yang katastropik seperti jantung, stroke, dan kanker.

Selama tahun 2018, tercatat Rp20,4 triliun telah dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk membiayai penyakit katastropik. Di antara berbagai penyakit katastropik tersebut, kanker paru masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia dengan 1,8 juta jiwa meninggal ditahun 2018 akibat penyakit ini.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto mengatakan, data World Health Organization (WHO) di 2018 memperlihatkan bahwa rokok merupakan penyebab utama dari kanker paru-paru.

“Berkontribusi lebih dari 2/3 kematian terkait kanker paru-paru secara global. Perokok juga akan terekspos ancaman kanker 13 kali lipat lebih tinggi dibandingkan non-perokok,” kata Agus, Jum'at (20/06/2019).

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Ahli Manajemen Jaminan dan Asuransi Kesehatan Indonesia (PAMJAKI) Rosa Christiana Ginting yang juga pakar Kesehatan Publik menyayangkan adanya ironi. Dimana, rokok adalah salah satu faktor risiko utama penyebab kanker paru-paru. Tetapi alternatif solusi bagi para perokok masih sangat terbatas.

”Melihat kondisi BPJS Kesehatan saat ini, kebijakan yang efektif sangat diperlukan untuk mengurangi angka perokok di Indonesia. Namun, kita juga harus mempertimbangkan bahwa perokok sering menghadapi gejala withdrawal yang merupakan akibat dari proses berhenti merokok. Berdasarkan pengalaman perokok yang gagal berhenti, gejala seperti tremor, kecemasan, berkeringat secara berlebihan, hiperaktif, peningkatan detak jantung, bahkan mual dan muntah dapat dialami. Ini merupakan variasi dari gejala withdrawal. Maka sangat penting untuk melihat alternatif yang tepat guna membantu seseorang berhenti merokok,” katanya.

Menanggapi epidemi rokok di dalam negeri, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan berbagai program untuk mengurangi prevalensi merokok di Indonesia, seperti hotline telepon untuk konsultasi bagi para perokok yang ingin berhenti, serta komunitas berhenti merokok yang difasilitasi berbagai klinik dan rumah sakit.

Namun, implementasi program tersebut masih jauh dari ideal. Pada 2018, WHO melaporkan bahwa terdapat 30,4 persen perokok Indonesia yang berusaha berhenti merokok, namun hanya 9,4 persen di antaranya yang berhasil.

Visiting Professor dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore, Tikki Pangestu yang juga pernah menjabat sebagai Director, Research Policy & Cooperation, WHO menambahkan bahwa pakar kesehatan dan dokter perlu lebih terbuka akan pendekatan lain demi berhenti merokok, termasuk pendekatan yang selama ini dilakukan dan sudah berhasil diimplementasikan di negara maju.

“Ini merupakan tanggung jawab moral dan etis bagi pakar kesehatan dan dokter untuk melihat secara jernih potensi keuntungan dari berbagai metode baru untuk membantu perokok dewasa berhenti atau beralih ke produk alternatif. Sebagai contoh, di Inggris prevalensi perokok dalam beberapa tahun terakhir turun secara drastis. Ada indikasi kuat bahwa Electronic Nicotine Delivery System (ENDS) dapat membantu perokok yang ingin berhenti atau beralih ke produk alternatif. Bukti-bukti ini sudah cukup untuk dijadikan petunjuk bagi para pemegang kebijakan,” pungkas Tikki.

Menilik data di Indonesia, Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia 2018 menunjukkan jumlah vapers di Indonesia mencapai 1,2 juta pengguna pada 2018. Melihat jutaan perokok dewasa di Indonesia, angka perokok yang akan beralih ke produk vaporizer diperkirakan sekitar 1 juta orang.

”Untuk itu, sekarang adalah waktu yang tepat bagi Indonesia untuk memulai penelitian lokal secara komprehensif dan berkualitas sebagai solusi alternatif untuk mengurangi angka perokok di Indonesia dan dampaknya terhadap beban anggaran kesehatan,” tutup Rosa.

Editor:  Syukur




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Calon Presiden dan Wakil Presiden Favorit Anda?
  Jokowi - Ma'ruf
  Prabowo - Sandi

Komentar Terakhir

  • Didi

    Mantap saya pendukung utama dan saya yakin pasti menang ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video